Laman

Senin, 20 Mei 2013

Kebodohan Profesor yang Menganggap Agama Sebuah Mitos Terjawab Sudah

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?
Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini.

“Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.

“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab,
“Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.
Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Tentu saja,” jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apakah kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab,
“Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”

Profesor itu menjawab, “Tentu saja gelap itu ada.”

Mahasiswa itu menjawab,
“Sekali lagi anda salah, Pak.Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak.”
“Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna.”
“Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

Dengan bimbang professor itu menjawab,
“Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,
“Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan.”
“Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam.

http://filsafat.kompasiana.com/2013/05/21/kebodohan-profesor-yang-menganggap-agama-sebuah-mitos-terjawab-sudah--561717.html#comment


sumber: http://filsafat.kompasiana.com/2013/05/21/kebodohan-profesor-yang-menganggap-agama-sebuah-mitos-terjawab-sudah--561717.html#comment

Sekilas Pribadi dan Latar Belakang Penulis

Nama lengkap saya adalah Nur Afifah Nugraheni, lahir dari pasangan suami istri Muhtadin bin Atmin bin Juwaher dan Siti Faoziyah binti Moh Ali. Saya anak kedua dari tiga bersaudara, kakak perempuan saya adalah Nurjanah Tis'a Agusta, S.Pd dan adik laki-laki saya bernama Muhammad Fahrurrozi. Ketika tulisan ini saya posting maka pekerjaan Ayah saya adalah TU SMP N 1 Pegandon, dan Ibu saya menjadi Ibu kantin di SMP 1 Pegandon (mantan smp saya, kakak, dan adik saya).  Dan untuk pekerjaan kakak saya sekarang ini adalah Guru Bahasa Inggris di SMP 1 Sokoria, Maurole, Ende, Nusa Tenggara Timur, dia ditugaskan disana oleh pemerintah sesuai dengan program yang diikutinya yaitu SM3T UNNES. Sedangkan adikku sekarang sedang menunggu pengumuman hasil Ujian Nasional SMA namun dia sudah diterima di AKPELNI Semarang gelombang pertama.
Dan untuk saya, saya lahir di Kendal tanggal 18 September 1993. Mulai sekolah di bangku Taman Kanak-kanak (TK) ABA Pegandon, SDN Pegandon, SMP N 1 Pegandon, SMA N 1 Pegandon, dan sekarang sedang melanjutkan studi di Universitas Negeri Semarang jurusan Pendidikan Ekonomi Administrasi Perkantoran (S1). Selama sekolah saya mempunyai kelebihan di bidang olahraga di bandingkan teman-teman dikelas. Dan saat SMP saya memutuskan untuk ikut ekstra Karate dan Basket, saya pun menjadi kapten tim basket putri Smp 1 Pegandon begitu pula SMA, saya juga menjadi kapten basket. Dari SMP sampai SMA saya menjuarai berbagai event pertandingan bola basket baik tingkat Kabupaten maupun Provinsi. Saya juga pernah meraih tropi MVP (tropi untuk pemain terbaik saat event berlangsung) di event SMANIP CUP tingkat Kab-Kendal. Selain basket, saya juga pernah meraih juara di bidang ekskul lain yaitu karate. Saya pernah menjadi juara 2 pertandingan kumite putri dan juara 1 kata beregu tingkat Kab-Kendal. Di bidang karate saya tidak begitu menekuninya, ala hasil sampai sekarang (sejak 4 tahun yang lalu, saya kelas 3 SMP) saya masih menyandang oby coklat dan belum pernah mengikuti ujian penurunan kyu untuk ke oby hitam (pelatih).
Diatas adalah beberapa keahlian saya di bidang Olahraga. Namun, semua orang tak dapat mengira ketika melihat pribadi saya yanag nampak dari luar (urak-urakan) kalau ternyata saya pandai berorasi dan pernah menjadi ketua umum OSIS dua kali di SMP dan SMA dan juga pernah menjadi Ketua Pratama Putri DKP ASTER SMP saya dulu. Bakat berbicara ini mungkin diturunkan oleh Ayah saya Mutadin bin Atmin yang dulunya juga Ketua OSIS di SMAnya. Bakat dari Ayah juga diturunkan kepada adik laki-laki saya Ozi (panggilannya) yang SMP menjadi wakil ketua OSIS dan SMA menjadi ketua umum OSIS. Dan bahkan sekarang dia menjabat sebagai ketua FKPPI Kab-Kendal.
Saya dilahirkan dari keluarga PNS yang sederhana bahakan menurut saya kurang kalau melihat(membandingkan dengan PNS PNS lainnya). Saya bisa mengatakan demikian karena Ayah saya hanya mempunyai rumah, dan Ibu saya tidak mempunyai apa-apa (tak mendapatkan hasil warisan dari kakek saya). Jadi penghidupan saya sekeluarga hanya benar-benra menggantungkan pada bayaran Ayah saya yang kurang lebih tiap bulannya 3 juta namun terkena potongan-potnongan hingga menjdai 500.000 (tiap bulan, nettonya). Kalau dipikir memakai logika mungkin hal itu tidaklah cukup untuk membiayai kuliah saya (yang jelas tidak bidikmisi alias bayar) serta adik saya yang sebentar lagi kan melanjutkan ke sekolah Pelyaran yang tentunya tidak membutuhkan biaya sedikit. Namun, Tuhanku ALLAH S.W.T telah memberi jalan lain untuk rejeki kedua orang tuaku dan Ayah pun terbantu dengan pekerjaan Ibu sebagai ibu kantin di SMP, serta kakakku yang  terkadang juga memberikan sedikit rejekinya untuk uang saku saya kuliah.
Didikan kedua orang tua dan keluarga besar saya yang mayoritas mendidik anak-anaknya dengan keras, maka hasilnya seperti saya sekarang ini yang berwatak keras kepala dan terkesan sombong acuh tak acuh. Namun ketika sudah kenal dekat dengan saya maka sontak persepsi Anda akan berputar 360 derajat. karena kebanyakan teman-teman saya dulunya takut dan enggan dengan saya setelah dekat malah mereka senang dan kaget melihat watak saya yang kacau maburadul lucu tapi juga keras (katanya), heee :D (LOL). Tapi menurut saya itu benar.
Sekian sedikit cerita tentang saya, terimakasih sudah membacanya.
Salam sejahtera unutk kita semua, semoga Anda sehat selalu! AMIN :)